|

Kita butuh pejuang...
Tulisan berikut sedikit bercerita tentang adanya di sisi-sisi kehidupan kita suatu pergerakan yang terjadi diseluruh pelosok negeri ini. Dimana pergerakannya bersifat menyeluruh, sporadis dan merata di seluruh tanah air. Pergerakan pejuang open source, dalam memasyarakatkan penggunaan operating system dan software open source.
Kalau dahulu gelar tersebut di sematkan kepada para pahlawan yang telah membela tanah air merebut kemerdekaan dari tangan penjajah tentunya menjadi keharusan. Karena mereka benar-benar secara spontan dan tergerak secara manusiawi untuk berontak dan mempertahankan diri dari belenggu yang mengikat dan menindasnya selama berabad-abad lamanya. Setelah kemerdekaan itu berhasil di rebut, kemudian pertanyaannya mau diapakan mereka, wong jumlahnya saja dari sabang sampai marauke alias dari seluruh penjuru tanah air. Memberikan penghargaan secara fisik kepada individu dari berjuta pejuang di tanah air tentunya menjadi hal yang sangat tidak mungkin karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pahlawan tanpa tanda jasa... dari rakyat jelata hingga jendral pantas menerimanya, karena memang seluruh komponen masyarakat turut aktif berjuang untuk memperoleh kemerdekaan, dan semuanya kini menikmati.
Bergeser setelah kemerdekaan, ada sebuah jabatan pekerjaan yang di sematkan kepada mereka sama seperti pahlawan diatas, yaitu guru. Pada masa-masa pasca kemerdekaan hingga masa-masa indonesia tengah bangkit setelah terpuruk berabad-abad ditangan penjajah. Indonesia membutuhkan tenaga-tenaga yang kita sebut guru untuk mendidik rakyat indonesia menjadi masyarakat yang berpendidikan. Ya.. karena penjajahan meninggalkan begitu besar pekerjaan rumah bagi bangsa indonesia, salah satunya adalah kebodohan. Indonesia secara perlahan bangkit dari tangan para guru untuk mendidik putra-putra bangsa menjadi lebih pintar dan bermartabat. Perjuangan guru semakin dirasakan, dari tahun ke tahun bangsa indonesia dapat men-sejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia dengan bekal masyarakat yang berpendidikan.
Mengapa muncul stigma guru merupakan salah satu gelar yang pantas disematkan pahlawan tanpa tanda jasa? Munculnya hal semacam itu, karena beberapa tahun yang lalu kita melihat kesejahteraan para guru jauh dari harapan. Pada masa tersebut banyak diantara kita melihat guru yang hidup pas-pasan hingga dibawah garis kemiskinan. Kita melihat dan merasakan pada masa itu bagaimana guru secara sepenuh hati tetap mendidik putra-putri bangsa secara ikhlas tanpa memperdulikan nilai kesejahteraan karena yang ada dalam benak mereka adalah panggilan untuk mendidik dengan baik dan melahirkan putra-putri terbaik bangsa. Munculnya lagu 'Oemar Bakri' yang dinyakikan Iwan Fals mungkin bisa memberi gambaran bagi kita bagaimana nasib guru pada masa itu. Guru, pahlawan tanpa tanda jasa... mereka pun cukup bangga diberi gelar seperti itu. namun kini secara perlahan sudah mulai berubah. tuntutan masyarakat untuk lebih mensejahterakan guru semakin deras, anggaran pendidikan dari tahun ke tahun semakin baik. dan gurupun sudah dapat menikmati hasilnya. sekarang guru bisa hidup lebih baik, bisa hidup lebih sejahtera dan kita melihat itu. walaupun masih ada dibagian lain guru-guru yang secara ekonomi masih hidup pas-pasan.
Sekarang bergeser lagi ke bagian lain berkaitan dengan dua narasi diatas. Indonesia tengah menjadi sorotan oleh berbagai kalangan dengan tudingan sebagai salah satu negara yang suka akan barang bajakan. Bahkan menempati deretan atas. Tentunya kita tidak serta merta mengeneralisasi seluruh masyarakat indonesia melakukan itu. Karena ada suatu kelompok dalam masyarkaat yang terdiri dari bebererapa kelompok orang yang hidup berkomunitas-komunitas memperjuangkan suatu gerakan moral untuk mengajak bangsa indonesia lebih menghargai hasil karya orang lain dan menggunakan sesuatu yang terjangkau namun legal dimata hukum. Yah.. kelompok-kelompok pengguna open source baik itu secara perorangan hingga berkelompok yang bersatu dalam satu kota, satu kampus, satu sekolah dan lainnya seperti komunitas pengguna yang diikat dalam satu ikatan kesamaan penggunaan salah satu macam open source. Kita bicara tentang komunitas linux dan opensource yang sekarang merata diseluruh tanah air. Dari aceh hingga timur Indonesia. Gerakan 'masive' ini mulai terasa beberapa tahun belakangan ini seiring dengan semakin banyaknya orang menggunakan linux dan open source sebagai alat atau media bagi mereka untuk melakukan aktivitas keseharian, bekerja, berusaha dan lain sebagainya.
Dengan gerakan yang sporadis diberbagai daerah komunitas-komunitas terus melancarkan kampanye penggunaan linux dan opensource. Mereka tanpa henti bahkan tanpa pamrih rela mengorbankan tenaga, pikiran bahkan harta mereka untuk mengajak orang menggunakan barang legal. Tentunya aktivitas mereka bukan tanpa halangan. secara politis, ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya mereka hadapi. Begitu banyak tantangan yang dihadapi oleh para komunitas tersebut, namun tantangan seperti itu bukanlah menjadi halangan, justru menjadi picu untuk mereka semakin kreatif dalam memasyarakatkan open source. Keberadaan mereka secara merata di Indonesia bagaikan pahlawan-pahlawan yang dahulu mengangkat bambu runcing, yang tidak rela bangsanya dijajah oleh bangsa lain. Namun musuh sekarang jelas berbeda, musuh yang sekarang adalah penjajahan secara ekonomi, politik, sosial dan budaya. mereka para komunitas mencoba untuk berjuang secara langsung maupun tidak langsung, sadar atau tidak sadar adalah untuk bangsanya, Indonesia. Agar lebih merdeka dalam ber'ekspresi', ber'aktivitas', bekerja dan sebagainya menjadi lebih "merdeka" dan tidak tergantung pada salah satu produk.
Ada sedikit cerita dari salah satu penggiat open source di daerah. Ketika dia ditanya oleh salah seorang temannya, "kamu mau miskin terus maen linux/open source semacam itu?" dengan enteng dia menjawab walaupun kelu... "rejeki kita di open source mungkin disimpan buat nanti di akherat nanti". dan diamlah sang penanya. Kira-kira di tengah persaingan orang untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk kepentingan diri dan keluarganya masing-masing, masih adakah orang yang secara suka rela berjuang untuk sesuatu yang belum 'lazim' ini. Jawabanya adalah "ADA". dan mereka adalah yang kini berjuang untuk memasyarakatkan open source di seluruh pelosok tanah air.
Kita butuh pejuang-pejuang tanpa tanda jasa seperti mereka itu. Karena hasilnya akan lebih terasa dan mulai terasa di belahan bumi indonesia. Penggunaan linux dan open source lainnya beberapa tahun belakangan ini mulai banyak ditemukan. Sebagian dari hasil jerih payah para komunitas linux dan opensource yang ada di tanah air mulai dirasa manfaatnya, pihak pemerintahpun tidak tinggal diam untuk memfasilitasi mereka. Mimpi dan cita-cita untuk sebuah hasil bahwa mereka bisa hidup lebih merdeka dengan apa yang mereka gunakan saat ini. Hasil agar lebih terbebas dari belenggu dan keterikatan serta ketergantungan kepada sesuatu kepada yang mereka anggap tidak bisa lebih bebas berekspresi. Rasanya para pejuang open source ini memang layak dinobatkan sebagai para pejuang tanpa tanda jasa pada saat ini. Mereka benar-benar bisa membawa bangsa Indonesia lebih bermartabat dimata bangsa-bangsa lain. karena bisa lebih mandiri dan tidak lagi dicap sebagai bangsa 'pembajak'. Mereka para komunitas open souce merupakan talenta yang patut diperhitungkan dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, walaupun mereka tanpa tanda jasa.
(Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009) |